Article umma

Mengenal Komunitas Sahabat Hijrah

Setiap manusia memiliki perjalanan hidup yang berbeda-beda. Tak jarang ada yang menjalani hidup kelam di masa lalunya, namun kini ingin menjadi pribadi yang lebih baik. Hijah, kata yang kini kian populer untuk menyebut mereka yang ingin kembali ke jalan Allah SWT. Tetapi sebagian orang masih bingung, langkah apa yang akan dilakukan selanjutnya setelah berhijrah. Khususnya bagi kalangan milenial yang masih minim ilmu pengetahuan mengenai agama Islam. Oleh karenanya, sekumpulan pemuda yang telah berhijrah di Bandung akhirnya memutuskan untuk membuat Komunitas Sahabat Hijrah. Komunitas ini bisa menjadi tempat bagi para milenial agar tetap istikamah dalam berhijrah. Anggota Komunitas Sahabat Hijrah Iqbal Ramadhan. (Foto: S Dzakiyyah - umma) Anggota Komunitas Sahabat Hijrah Iqbal Ramadhan mengatakan, komunitas ini telah berdiri sejak dua tahun silam. Salah satu pendirinya, merasakan kebingungan terhadap langkah apa yang akan dilakukannya setelah hijrah. “Jadi ketemunya pas di kajian-kajian. Kami merasa kok setelah hijrah kami nggak ada pergerakannya gitu, dan takutnya kembali lagi seperti dulu, akhirnya sepakatlah buat bikin Komunitas Sahabat Hijrah,” ujar Iqbal saat ditemui umma, saat acara Halal Expo Indonesia (HEI) 2019, akhir pekan lalu. Iqbal juga menuturkan setelah Sahabat Hijrah terbentuk, pihaknya membuat beberapa program yang menyentuh masyarakat. Di antaranya yakni dakwah goes to school, cek kesehatan gratis, bakti sosial jompo, bantuan bencana alam, serta bimbingan tahsin dan tahfidz. Salah satu kegiatan Komunitas Sahabat Hijrah. (Foto: istimewa) Ia menyebutkan fokus utama Komunitas Sahabat Hijrah yakni menggelar kajian di sekolah setingkat SMP dan SMA. Pihaknya sengaja memilih usia remaja, karena berawal dari keresahan sang pendiri Komunitas Sahabat Hijrah, Deny. "Saat pertama terbentuk Kang Deny punya anak perempuan sekolah SMP, akhirnya timbul keresahan, takut pergaulan di sekolahnya tidak baik, atau di lingkungannya juga nggak benar,” tuturnya. Namun bukan berarti langkah dakwah mereka berjalan mulus begitu saja. Tak jarang mereka juga mendapatkan penolakan dari berbagai pihak yang menganggap mereka akan menyebarkan paham radikal. Komunitas Sahabat Hijrah fokus pada generasi muda. (Foto: istimewa) “Alhamdulillah sudah puluhan sekolah yang kami bimbing, namun ada juga beberapa yang nolak. Mikirnya kami ini ngapain sih, dikira mau menyebarkan paham radikal dan sebagainya lah,” kata Iqbal. Meski demkian, tak menyurutkan semangat dakwah dari anggota Sahabat Hijrah. Mereka terus bergrilya agar anak-anak muda tidak terjerumus kepada hal-hal yang negatif. Lebih lanjut, Iqbal juga berharap dengan adanya Sahabat Hijrah, bisa membangkitkan ukhuwah islamiyah, dan menjaga generasi muda dari arus pergaulan yang negatif. Tak hanya itu, ia juga berharap Sahabat Hijrah menjadi wadah yang bisa membantu sesama umat muslim. “Tahun 2030 katanya kita akan kebanjiran anak muda di Indonesia, jangan sampai hal tersebut malah menjadi boomerang untuk negara kita sendiri, makanya mulai dari sekarang kita siapkan mereka agar bisa menjadi garda terdepan untuk memajukan Islam,” pungkasnya. Penulis: S Dzakiyyah - umma

Tips Diet Mudah dan Murah Ala Chef Muto

Sahabat umma, diet bukan hal baru lagi saat ini. Banyak orang yang melakukan diet dengan alasan yang berbeda, walau tujuan akhirnya sama yaitu ingin sehat. Meski diet tidak dilarang dalam Islam. Tetapi jika diet sudah menyiksa tubuh, itu tidak diperkenankan karena tubuh yang dimiliki adalah salah satu amanah dari Allah yang harus dijaga. Menurut Chef Muto diet sebetulnya murah dan mudah. Bahkan untuk diet tidak wajib untuk pergi ke gym atau menyewa instruktur, karena bisa dilakukan sendiri. Salmon ubi by Chef Muto. (Foto: Evi Teja K - umma) "Orang diet itu ketika sudah terjadi (kegemukan), seharusnya jika bisa menjaga tubuh dari jauh hari pasti tidak memerlukan diet. Maka jika ingin diet, yang pertama adalah tidak menanamkan sedang diet dalam pikiran," ujarn saat kegiatan Halal Expo Indonesia (HEI) 2019, akhir pekan lalu. Diet bisa dilakukan dengan mudah dan murah jika selalu olahraga dan makan teratur. Tetapi apa makanan apa yang tepat untuk dimakan selama diet? Chef Muto menyebutkan orang yang diet tidak perlu jadi vegetarian dengan tidak memakan daging. Hanya saja semua makanan yang masuk ke tubuh harus terkontrol. Dalam Islam saja jika berlebihan tidak diperbolehkan. "Banyak makan sayuran. Jelas sayuran lebih murah dari daging. Makan rebusan atau langsung makan wortel mentah, itu sehat asal cuci dengan cara yang bersih," ujarnya. Ia juga menuturkan, olahraga sangat penting. Bagi yang males gerak (mager) atau tidak ada waktu untuk jogging, bisa melakukannya di dalam rumah, bahkan di atas kasur. "Bangun tidur angkat kaki 90 derajat atau sit up ketika bangun tidur. Hanya harus dirutinkan setiap hari," kata Chef Muto. Ia menambahkan bila mengonsumi makanan yang sehat dengan porsi sewajarnya, serta rutin olahraga walau 5-10 menit setiap bangun tidur, bisa membuat badan lebih sehat. Jangan diniatkan karena ingin memiliki tubuh ideal, tetapi tubuh sehat. Karena menjaga tubuh agar tetap sehat adalah kewajiban setiap muslim. Penulis: Shofa Yanti - umma

Resahnya Rifki Memikirkan Solusi bagi Umat

Kenangan Rifki Saiful Rahman membawa dirinya ke masa-masa ketika ia mengalami keresahan yang teramat dalam karena banyaknya persoalan hidup yang harus dihadapi. Dahinya berkerenyit memikirkan solusi praktis apa yang dapat menjawab kegelisahannya itu. Kegundahannya terus bertambah karena semakin dia mencari solusi malah semakin berat beban hidupnya. Tiba-tiba hatinya mengatakan agar ia mendatangi sebuah kajian seorang ustaz. Tanpa banyak berpikir Rifki lantas memacu kendaraannya dengan harapan datang ke kajian dapat mengentaskan masalahnya. Setibanya di tempat kajian, Rifki pun langsung mengambil duduk dan mendengarkan materi kajian yang dibawakan sang ustaz. Layaknya seorang penimba ilmu, dia mendengarkan kajian dengan penuh saksama. Berharap mendapatkan solusi melalui cara yang benar dan sesuai tuntutan agama. Rifki memandang dakwah harus menghadirkan solusi bagi permasalahan umat. (Foto: Rifqi Aufal - umma) Tetapi Allah punya rencana yang lain. Kajianya yang ia hadiri dan diharapkan membawa solusi rupanya tak sesuai ekspektasi. Dia pun tak menemukan jawaban yang dicari. Namun hal itu ternyata menjadi titik balik Rifki untuk bergerak mencari jawaban atas masalahnya sendiri dan bahkan umat. Bersama kawan-kawan dari Komunitas Dakwah dan Sosial (Kodas) ia membentuk perkumpulan baru dengan nama Hijrah Care. Rifki menaruh asa pada gerakan yang ia himpun ini agar bisa mengentaskan masalah umat sampai akar-akarnya. Karena menurutnya, penting bagi umat mencari jalan keluar dari masalahnya. Apalagi bagi orang-orang yang baru memutuskan untuk berhijrah. "Misalnya dia punya tato, kemudian di masyarakat dia dicibir. Solusinya apa? Kalau hanya sebatas diberikan kajian saja ya mungkin hijrahnya hanya bertahan beberapa saat," ujarnya saat berbincang dengan umma di perhelatan Halal Expo Indonesia (HEI) 2019, ICE BSD, Tangerang, akhir pekan lalu. Karena itu Hijrah Care mengusung program hapus tato untuk para pemilik guratan tinta di bagian tubuhnya. Tujuannya tak lain dan tak bukan supaya mereka tidak dicibir masyarakat. Itulah yang menurut Rifki disebut sebagai solusi. "Ya makanya kita insya Allah menjadi solusi mudah-mudahan bisa mengurangi beban moral mereka melalui hapus tato. Jadi kita ingat dakwah ya itu positif," imbuhnya. Rifki bersama teman-teman di Hijrah Care ingin sekali membentuk lingkungan positif untuk mereka sampai persoalan yang membebankannya bisa disingkirkan secara menyeluruh. Ia ingin proses hijrah berjalan lancar hingga pesertanya menjadi ahli agama. Bahkan bagi mereka yang meninggalkan pekerjaan ribawi dan tidak halal, komunitas memfasilitasi modal usaha. Harapannya mereka yang diberikan rezeki ini bisa melalui proses hijrah dengan sebaik-baiknya. Bukan cuma itu, bagi mereka yang baru mengenal Islam akan dituntun untuk mengenal agamanya lebih dalam. Bila ada yang belum mahir mengaji, Hijrah Care memberikan edukasi kepadanya melalui pelatihan membaca Al-Qur'an. Rifki mengaku bahagia melihatnya. Namun hal itu bukan tanpa sandungan. Rifki mengatakan, pihaknya kekurangan dari segi dana untuk menggerakkan operasional komunitas. Ia mengaku selama ini hanya menghimpun dana dari umat melalui zakat dan infak. "Harapannya ada dari para muksinin dari orang-orang yang punya kapasitas lebih dari segi ekonomi tetapi ingin berkontribusi dalam dakwah, ingin memberi investasi surga tapi pasif income nih, enggak ngerjain, ibaratnya itu. Jadi kita yang eksekusi, muksininnya juga dapat pahala, seperti itulah," tuturnya. Selain itu, Hijrah Care hanya bernaung nomaden dari masjid ke masjid. Rifki menuturkan, pihaknya belum mendapat tempat yang cocok sebagai pusat kegiatan komunitas dan para pejuang hijrah melalui hapus tato. Ia pun berharap ke depannya bisa mendirikan tempat sendiri supaya kegiatan operasional komunitas bisa dirasa nyaman, aman, dan tentram. Jika hal itu bisa terwujud, kata Rifki, mudah-mudahan umat semakin giat belajar hijrah serta menjadi Muslim yang lebih baik. "Harapannya bisa punya hijrah care center, di situ ada pusat pendidikan, ada pusat kesehatan, ada pusat latihan, dan sebagainya. Pokoknya jadi solusi untuk umat, intinya seperti itu," tuturnya. Penulis: Rifqi Aufal - umma

Ustaz Handy Bonny: Bawa Tumblermu

Sampah plastik kian menjadi masalah di penjuru dunia. Indonesia sebagai salah satu negara dengan tingkat populasi manusia terpadat di dunia juga pastinya menyumbang sampah paling besar. Tak ayal, kini Indonesia menempati posisi kedua dengan negara penghasil sampah plastik tertinggi di dunia setelah Tiongkok. Melihat hal ini, kemudian banyak muncul gerakan perangi sampah plastik di Indonesia. Salah satunya yakni gerakan movement atau lebih dikenal dengan 'Bawa Tumblermu.' Gerakan ini salah satunya dikampanyekan oleh Ustaz Handy Bonny. Ustaz Handy Bonny mengatakan bahwa 'Bawa Tumblermu' adalah salah satu gerakan membiasakan diri membawa botol minum (tumbler). Hal ini khususnya pada saat berpergian sehingga tak perlu membeli air kemasan yang justru akan meninggalkan sampah. Ustaz Handy Bonny. (Foto: S Dzakiyyah - umma) Gerakan ini telah diinisiasi oleh dirinya sendiri sejak awal 2019. Awalnya dengan mulai melempar isu sampah plastik di akun sosial media miliknya. "Sebenarnya dari awal 2019 movement ini, dari awal ngelempar isu zerowaste, lesswaste, pokonya ngelempar isu dulu baru kemudian digelorakan, dengan hastag #bawatumblermu," ujar Ustaz Handy saat berbincang dengan umma saat acara Halal Expo Indonesia (HEI) 2019, akhir pekan lalu. Ustaz Handy menuturkan bahwa sejak dulu, dirinya sangat senang dengan isu lingkungan. Ia mengaku, banyak teman aktivis yang akhirnya mengajaknya untuk melakukan gerakan selamatkan lingkungan. Salah satunya yakni dengan gerakan mengurangi sampah plastik. "Sebenarnya suka sama isu lingkungan sudah dari dulu, karena punya teman yang aktivis lingkungan juga. Alhamdulillah Allah kasih kepercayaan saat ini kepada saya untuk sedikitnya bisa menjadi trendsetter anak muda. Jadi dimanfaatkan lah hal itu untuk bikin gerakan ini," lanjutnya. Lebih lanjut, Ustaz Handy menjelaskan bahwa gerakan ini bukan hanya sekedar penyelamatan terhadap lingkungan saja. Namun juga perubahan terhadap kebiasaan diri sendiri. Ia mengungkapkan bahwa dakwah yang kini dilakukannya adalah cara dakwah yang paling konkret. Sebab, kalau bukan dari anak muda, siapa lagi yang akan membawa perubahan ke depannya. "Jadi it's not about you bring your tumbler, tapi juga bagaimana menahan diri kita untuk nggak bersikap arogan, ngerugiin orang lain. Bawa tumbler itu repot, risih lah, berat lah, repot kalau nanti harus isi ulang lagi, ngisinya ke mana, itu lah yang musti diubah," pungkasnya. Penulis: S Dzakiyyah - umma

Tips Masak Sehat dari Chef Muto

Makanan memang sangat bermanfaat bagi tubuh. Karena tubuh membutuhkan gizi, nutrisi, dan yang lainnya agar bisa melakukan aktivitas sehari-hari. Maka tidak heran banyak orang memilih untuk memasak makanan sendiri dari pada membeli karena dianggap lebih sehat. Namun tahukah sahabat umma, memasak di rumah pun bisa jadi tidak sehat? Chef Muto ketika ditemui oleh umma di Halal Expo Indonesia (HEI) 2019 beberapa waktu lalu menuturkan, tidak semua yang di masak sendiri bisa menjadi sehat. Chef Muto. (Foto: Evi Teja K - umma) "Kenapa demikian? Karena tidak tahu cara mengolah bahan yang baik. Sebetulnya sehat tidaknya masakan bergantung kepada yang memasak," tutur Chef Muto dengan logat Tegalnya, akhir pekan lalu. Apa saja hal yang membuat makanan tidak sehat? Pertama, menggunakan minyak goreng bekas atau sisa memasak sebelumnya. "Makannya kalau mau menggoreng pakai minyak, lihat dulu berapa banyak bahan yang akan digoreng, agar tidak ada minyak tersisa," ujarnya. Sebetulnya boleh saja memakai minyak bekas, dengan batas maksimal tiga kali. Adapun minyak yang sehat menurut Chef Muto adalah yang rendah kadar tak jemunya, ini bisa dilihat dalam komposisi minyak dalam kemasannya. Kedua, menghangatkan makanan. Menurutnya kebanyakan daerah di Indonesia suhunya panas, maka dirasa tidak perlu menghangatkan makanan yang belum habis. "Tidak dihangatkan juga tidak apa-apa kok. Maka dari itu ketika memasak perhatikan jumlah yang akan makan dan jumlah bahan makanan agar tidak tersisa dan dihangatkan," ucapnya. Chef Muto mengatakan, yang ketiga adalah banyaknya bumbu. Biasanya makanan yang mengandung banyak bumbu tidak begitu baik bagi kesehatan. Yang keempat, mencuci bahan makanan dengan tidak benar. Walaupun itu buah dan akan dimakan langsung, perhatikan cara mencucinya. "Yang dicuci itu buah yang berkulit. Seperti semangka, walau dimakan yang ada di dalamnya, tetap cuci," kata Chef Muto. Ia menjelaskan, jika buahnya yang tidak perlu dikupas seperti stroberi. Masukan buah tersebut ke dalam wadah yang terkandung air garam, lalu kocok wadah tersebut. "Lalu bilas pakai air biasa dan buang airnya jika sudah. Jangan sampai ada air tergenang di dalam wadah tersebut, jika sudah tidak ada airnya, buah bisa dikonsumsi," jelasnya. Menurutnya ketika masak harus perhatikan dan tahu cara pengolahannya. Karena seperti daun singkong bisa beracun jika dari mulai pemetikan daunnya atau pengolahannya salah. "Semua yang di alam itu sehat, hanya tergantung bagaimana yang mengolah. Kalau salah dan malah over dalam memasak, bisa jadi makanan yang diolah tidak sehat," pungkasnya. Penulis: Shofa Yanti - umma

Intip Program Wastehub Saat Berdayakan Pemulung

Pemulung menjadi salah satu profesi yang banyak dijalani oleh kaum marjinal. Mereka mengumpulkan barang-barang yang sudah tak tarpakai di tumpukan sampah atau yang ada di jalanan. Profesi ini acap kali dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Padahal mereka justru membantu kita untuk mengurangi sampah yang bisa diolah kembali. Tak jarang mereka pun mendapatkan pundi-pundi uang dari hasil sampah yang mereka kumpulkan. Waste Solution Hub (Wastehub) pun melihat peluang untuk memberdayakan para pemulung. Saat ini baru pemulung yang ada di wilayah Bintaro, Tangerang Selatan yang diberdayakan. Ilustrasi. (Foto: net) Founder Wastehub Ranitya Nurlita mengatakan pihaknya memiliki berbagai program dalam memberdayakan pemulung. Dengan program yang ada diharapkan para pemulung juga bisa mendapatkan manfaat, sehingga memiliki kehidupan yang semakin baik. Beberapa program yang sudah digarap oleh Wastehub yakni Consult, Create, Empower, dan Solve. Consult yakni memberikan solusi untuk menyelesaikan masalah umum antara pemulung dan pemulung. "Caranya dengan memberikan pengetahuan praktik terbaik yang mencakup sumber daya dan layanan lainnya untuk meningkatkan area pengumpulan limbah," kata Lita sapaan akrabnya kepada umma di Halal Expo Indonesia (HEI) 2019, akhir pekan lalu. Lalu, create adalah menciptakan pengelolaan limbah yang lebih sistematis, terintegrasi dan berkelanjutan dengan pendekatan TIK. Sedangkan, empower memberikan peluang tambahan dan soft skill untuk meningkatkan pendapatan bagi pekerja limbah (pemetik). Pihaknya membuat Pusat Solusi Sampah. Di dalamnya terdapat pelatihan, kegiatan sukarela, kerajinan, peningkatan kapasitas, dan lain sebagainya. "Kalau untuk solve, kami buat aps tentang sampah. Jadi kami kaya go life, go massage, tapi ini dari pemulung yang bersertifikat, terus bangun sanitasi yang layak, lingkungan, dan fasilitas kesehatan," lanjut Lita. Lebih lanjut, Lita yang kini bekerja di perusahaan perikanan di Thailand mengatakan, visi terbesar Wastehub adalah menjadi suatu platform acuan masyarakat bertanya soal sampah. Sehingga masyarakat juga teredukasi mengenai pengelolaan sampah. "Keinginan terbesar kami itu bisa jadi wadah orang-orang yang sudah mulai peduli lingkungan, dan juga ingin jadi paltform yang kalau orang nanya sampah itu di mana, ya itu di wastehub," pungkasnya. Penulis: S Dzakiyyah - umma

Saat Bikers Doyannya Salat Subuh Berjemaah

Apa yang terlintas di benak Sahabat umma ketika mendengar kata bikers? Mungkin yang terbayang pertama kali adalah mereka yang hobi memodifikasi motornya atau jalan-jalan meniti setiap jengkal jalanan di belahan Bumi manapun. Tapi ternyata ada sebuah komunitas bikers yang rupanya tidak hanya doyan touring dan berbagai kegiatan otomotif lainnya, lho. Mereka juga punya hobi mengajak orang-orang untuk Salat Subuh berjemaah dari masjid ke masjid dengan menggunakan motor. Wah, bikers fii sabilillah ini mah namanya, ya. Mereka adalah Bikers Subuhan, sebuah komunitas yang beranggotakan pemuda-pemuda Islam yang keberadaannya kini sudah cukup banyak tersebar di seantero negeri. Setiap akhir pekan Bikers Subuhan rutin menggelar roadshow kepada siapa saja yang ingin melaksanakan Salat Subuh berjemaah dari masjid ke masjid secara bergantian. Selain nongkrong berjemaah, Bikers Subuhan juga hobi salat berjemaah. (Foto: M. Yusuf Agam) "Ini sebenarnya enggak khusus untuk anggota saja sih, tapi orang umum juga bisa ikut. Jadi setiap hari Sabtu itu kita bikin selebaran lewat media sosial akan ada subuhan bersama. Syaratnya cuma satu yaitu mau salat," kata salah satu anggota Bikers Subuhan, Paul, kepada umma beberapa hari lalu. Sebelum menggelar subuhan bersama para bikers akan terlebih dahulu menetapkan titik kumpul. Barulah mereka beranjak ke masjid yang sudah ditentukan. Lalu semudah itukah mengajak bikers untuk Salat Subuh berjemaah? Menurut Paul, pro dan kontra muncul ketika para Bikers Subuhan mengajak bikers lain untuk Salat Subuh berjemaah. Trik untuk menyadarkannya adalah dengan melakukan pendekatan disertai menyelipkan cerita-cerita tentang Islam saat tengah berbincang. "Yang penting sering nongkrong aja dulu. Pelan-pelan, di situ kita sering bercanda. Jadi nggak langsung to the point tapi pelan-pelan. Mereka dengan sendirinya akan tau dan paham maksud kita," ucapnya. Para bikers, kata Paul, biasanya sering menghabiskan malam sampai waktu subuh menjelang. Di situlah bikers subuhan hadir agar obrolan sepanjang malam itu tak sia-sia. "Nah setelah nongkrong itu kenapa nggak salat berjamaah aja. Nongkrong aja jamaah, kok sholat enggak. Gitu. Kalau sudah mau salat jemaah baru nanti selanjutnya setiap nongkrong disisipkan siraman rohani dari ustaz," ujarnya. Ustaz yang dihadirkan tentu adalah ustaz yang muda dan mengenal karakter bikers yang mayoritas anak muda. Dari situlah, komunitas ini berkembang dan sudah ada 130 bikers subuhan di berbagai kota. "Alhamdulilah sudah 130 titik ada di daerah, kabupaten, kota. Jadi subuhan berjemaah itu nanti roadshow di masing-masing daerah gitu," ungkapnya. Penulis: M. Yusuf Agam - umma

Berdayakan Pemulung untuk Lestarikan Lingkungan

Entah sadar atau tidak sadar, kegiatan manusia sehari-hari selalu menyisakan sampah. Jika tidak dikelola dengan baik, alhasil sampah-sampah itu akan menumpuk dan justru akan menyebabkan penyakit. Dari data Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang pernah dipublikasikan, dikatakan bahwa Indonesia memproduksi sampah hingga 175 ribu ton perhari atau setara dengan 64 juta ton pertahun. Bila diasumsikan berdasarkan data tersebut, setiap orang secara terus menerus memproduksi sampah sekitar 0,7 kilogram sampah per harinya. Meski demikian, bukan berarti sampah adalah masalah yang tidak dapat diminimalisasikan. Founder Wastehub Ranitya Nurlita. (Foto: S Dzakiyyah - umma) Seperti halnya yang dilakukan oleh Waste Solution Hub. Lembaga kewirausahaan sosial ini menjadi salah satu bukti bahwa sampah adalah masalah yang harus diselesaikan bersama. Waste Solution Hub atau biasa disebut Wastehub adalah salah satu lembaga yang bergerak dalam bidang lingkungan dan sosial. Salah satu fokus mereka adalah memberdayakan pemulung yang berada di Bintaro, Tangerang, Jawa Barat. "Kita milai idea bikin Wastehub itu sejak Desember 2018, baru jalan di 2019, salah satu fokus kita itu memberdayakan pemulung," ujar Founder Wastehub Ranitya Nurlita saat ditemui umma di acara Halal Expo Indonesia (HEI) 2019, akhir pekan lalu. Awalnya, perempuan yang akrab disapa Lita ini, bertemu dengan seseorang yang juga sudah memberdayakan pemulung yakni Siti. Karena memiliki tujuan yang sama, keduanya pun membuat Wastehub. "Saya dalam bidang bisnisnya, kak Siti di bidang kemasyarakatannya," ucapnya. Ia mengaku bahwa pemulung saat ini masih dipandang sebelah mata oleh sebagian orang. Sebab, pemulung termasuk dalam kaum marjinal yang hidupnya tidak jauh dari sampah dan kotoran. Padahal, pemulung memiliki peran yang sangat besar untuk mengurangi sampah. Mereka bahkan lebih pintar dalam memilah dan memilih sampah ketimbang masyarakat umum lainnya. Tak hanya itu, Lita menjelaskan bahwa pemulung memiliki hak yang sama. Mereka sebagai manusia juga berhak untuk mendapatkan hidup dan pendidikan yang layak. "Kami juga menggalang dana untuk anak anak pemulung yang putus sekolah. Nah kami ingin meskipun mereka nggak sekolah tapi tetap bisa ikut kejar paket, sekolah yang layak, dan lulus hingga sekolah menengah," paparnya. Penulis: S Dzakiyyah - umma

Dukung Hijrah, Yayasan Cinta Quran Rutinkan Isi Kajian di Kantor

Masyarakat urban di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan sebagainya tengah mengalami fenomena hijrah dan haus dengan kajian-kajian agama Islam. Namun bagi pekerja kantoran yang disibukkan dengan kewajibannya sehari-hari ternyata cukup kesulitan untuk mengikuti kajian-kajian Islam yang mayoritas dilaksanakan di masjid. Mereka pun ingin jika kajian-kajian Islam bergeser tempatnya di musala-musala perkantoran agar mudah dijangkau tanpa harus meninggalkan area perkantoran. Masalah ini mendapatkan respons dari Yayasan Cinta Quran lewat program kajian perkantoran. Yovan, Supervisor Yayasan Cinta Quran mengatakan, nantinya mereka akan menggelar roadshow ke kantor-kantor yang mengajukan permintaan. Yovan menjelaskan, program ini juga merupakan bentuk dukungan atas masifnya gerakan hijrah yang terjadi belakangan ini yang tidak hanya digerakkan para publik figur tapi juga orang-orang yang bekerja di kantor-kantor. Ilustrasi. (Foto: republika) "Nah, sekarang banyak keluhan, orang-orang di kantoran itu susah dapat kajian, mereka harus berangkat dari rumahnya itu pagi-pagi banget, pulang udah malam. Sentuham rohaninya jarang banget," kata Yovan kepada umma kemarin lalu. Yovan melanjutkan, bagi perusahaan yang ingin mengadakan kajian bisa menghubungi pihaknya melalui Instagram. Yayasan akan dengan senang hati mengirimkan ustaz untuk memberikan dakwah di kantor tersebut. Sejauh ini, ada 300 perusahaan yang tersebar di Jabodetabek dan Bandung yang rutin mendapatkan kajian dari Yayasan Cinta Quran. Adapun, mereka tidak menarifkan ustaz yang mengisi kajian di kantor tersebut. "Waktunya fleksibel mengikuti kantor. Bisa pagi pukul 07.00 - 08.00 sebelum dimulainya aktivitas kantor, bisa juga pukul 12.00 - 13.00 saat istirahat kantor, atau pukul 17.00 - 18.00 sore saat jam pulang. Nanti kita akan dukung supaya ustaznya datang ke sana," ucapnya. Dalam kajian itu, Yayasan Cinta Quran akan menyiapkan 12 materi untuk disampaikan mulai dari pembahasan akidah, syariah, sampai dakwah. "Dan kita juga menyiapkan materi khusus yang berkesinambungan, pembahasannya yang akidah, syariah sampai pada dakwah. Bagaimana kalangan profesional itu bisa berdakwah di jam sibuknya. Kita benahi tauhidnya. Kurang lebih ada 12 materi. Efeknya supaya karyawan akan aware pada islam," jelasnya.

Kenalan dengan GP Ansor, Ormas yang Berusia 85 Tahun

Siapa yang tak mengenal organisasi kemasyarakatan (ormas) Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor). Ormas ini berafiliasi dengan organisasi Nahdlatul Ulama (NU). Anggota GP Ansor Wilayah Jakarta Pusat, Hendra Wahyudi menuturkan ormasi ini sudah berdiri sejak 1934. Saat ini telah memiliki sekitar 10 juta anggota di seluruh wilayah Indonesia. "Kami membentuk generasi muda Indonesia sebagai kader bangsa yang berakhlak mulia, cerdas dan tangguh, serta memiliki keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT," tuturnya saat ditemui oleh umma dalam kegiatan Halal Expo Indonesia (HEI) 2019, akhir pekan lalu. GP Ansor saat mengikuti kegiatan Halal Expo Indonesia (HEI) 2019. (Foto: Shofa Yanti - umma) Menurutnya, nama Ansor sendiri diambil karena artinya penolong. Sebagaimana ketika zaman Rasulullah SAW ada pribumi yang disebut kaum ansor. Hendra menyebutkan ormasnya memiliki berbagai kegiatan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. Seperti Darul Ansor, Barisan Ansor Serbaguna (Banser), Badan Ansor Anti Narkoba (Banaar), dan Rijalul Ansor yaitu Majelis zikir dan salawat. Selain itu ia menuturkan ada juga bidang ekonomi, yakni Lembaga Perekonomian Ansor. Pada bidang ini, produk yang dipasarkan adalah buatan GP Ansor sendiri. "Seperti yang kami bawa ini, ada nasi kebuli, bir pletok, biji kopi berbagai daerah, hingga merchandise lainnya," ujarnya sambil menunjukan barang yang ada di boothnya dalam kegiatan HEI 2019. Kedepannya, GP Ansor ingin membuat kaos, nantinya ada kata-kata dari KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gusmus di dalam kaos tersebut. "Selain itu kami juga ingin lebih memajukan bidang pendidikan dan bidang lainnya walau step by step," ujar Hendra. Penulis: Shofa Yanti - umma

Komunitas MTR Ajak Masyarakat Lepas dari Lilitan Utang

Siapa yang tak pernah berutang? Utang sendiri melekat di kehidupan masyarakat sehari-hari. Entah itu utang dalam jumlah kecil maupun besar. Memang dalam Islam, berutang itu tidak dilarang. Asalkan dilakukan sesuai syariah dan tidak ada riba di dalamnya. Namun terkadang masyarakat terjebak dalam riba saat melakukan transaksi utang piutang. Berawal dari pengalaman dan melihat banyaknya permasalahan utang, berdirilah sebuah Komunitas Masyarakat Tanpa Riba (MTR). Berdiri sejak 2002 komunitas ini telah membantu masyarakat yang terjerat utang. Penggiat Komunitas Masyarakat Tanpa Riba (MTR). (Foto: Shofa Yanti - umma) Salah satu penggiat MTR, Achmad Fauzi menuturkan awalnya melihat kesalahan fatal dari pengusaha yang berbisnis dengan utang. Lalu melihat tabiat dari orang yang berutang. "Jadi kami mengajak dan mambantu orang-orang mengenai semua persoalan utang dan fikih muamalah. Karena bagaimana pun riba tidak bisa dipisahkan dari utang," ucap Fauzi kepada umma, saat di acara Halal Expo Indonesia (HEI) 2019, akhir pekan lalu. Ia menuturkan, awalnya para penggiat MTR juga merupakan pelaku utang. Bahkan mereka memprioritaskan utang sebagai awal dan penyelesaian finansial. Tetapi akhirnya mereka menyadari akibatnya, apalagi jika sudah bersentuhan dengan riba yang jelas Allah haramkan. Melalui Komunitas MTR masyarakat bisa berkonsultasi. Tak hanya itu pihaknya juga mengadakan kegiatan bertukar pengalaman dan seminar. Kegiatan tersebut selalu dilakukan dengan tatap muka dan sudah dilaksanakan di seluruh Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Fauzi mengatakan kegiatan yang dilaksanakan oleh MTR adalah bentuk dakwah, namun mengenai utang dan riba. Karena para penggiat menyampaikan seluruh ilmunya berdasarkan Al-Qur'an dan hadis. "Ada juga yang datang karena bisnisnya sudah down, maka kami berikan juga motivasi dan pembelajaran agar bangkit, tetapi tidak dengan cara berutang," ujarnya. Ia mengatakan sesi sharing yang dilakukan penggiat MTR juga berdadarkan pengalaman pribadi. Mereka tidak ingin ada orang lain mengalami hal buruk bahkan lebih dari itu karena mengawali dengan utang. "Kami selalu jadwalkan perwilayah dan gratis. Biasanya ada pembayaran dalam registrasi jika tempatnya di hotel dan untuk konsumsi mereka juga," ujarnya. Dalam waktu dekat, MTR akan melakukan sharing sesion di Jabodetabek dan Cikarang. Bagi yang berminat boleh hadir untuk mendapatkan ilmu lebih mengenai fikih muamalah. Penulis: Shofa Yanti - umma

Komunitas Hijrah Care Berkomitmen Temani Umat

Masifnya gerakan hijrah para pemuda di Indonesia menjadi sebuah fenomena tersendiri. Tujuannya tak lain karena mereka ingin lebih mendekatkan diri kepada Allah supaya menjadi pribadi yang lebih baik. Sebagai salah satu kota dengan fenomena hijrah terbesar di Indonesia, sekarang ini Bandung banyak melahirkan beragam komunitas Islami yang berfokus kepada kajian-kajian keagamaan ataupun kegiatan sosial lainnya. Salah satunya komunitas Hijrah Care yang berfokus pada program penghapusan tato bagi kaum Muslimin yang berusaha istikamah bertobat nasuha. Founder Hijrah Care, Rifki Saiful Rahman mengatakan, komunitasnya lahir karena tingginya minat para pemuda hijrah di Bandung yang ingin menghapus tatonya dan membutuhkan perhatian khusus untuk menjalani hajat mereka. Selain kegiatan hapus tato, komunitas Hijrah Care berkomitmen temani mereka yang tengah berhijrah. (Foto: Rifqi Aufal - umma) "Kami juga melayani konsultasi hijrah. Karena perjalanan seseorang menuju hijrah kepada Allah SWT bukanlah perkara mudah. Proses hijrah adalah perjalanan panjang yang bisa menguras waktu dan tenaga," kata Rifqi kepada umma kemarin lalu. Dia melanjutkan, komunitas Hijrah Care mencanangkan beberapa treatment khusus untuk anak didiknya. Di antaranya tahsin, rukiah, thibbun nabawi, dan dirasah Islamiyah. Komunitas ingin sekali mengajak mereka mengenal Islam dari nol. Selain itu, komunitas Hijrah Care juga memfasilitasi modal usaha bagi mereka yang berusaha keluar dari pekerjaan ribawi. Dananya dihimpun dari berbagai sumber, salah satunya melalui umat. "Mereka yang enggak punya pekerjaan nih akan kami berikan mereka pekerjaan. Ada yang menjual susu jahe, kita kasih booth," ujarnya. Ke depannya Rifki berharap, komunitas Hijrah Care semakin besar sehingga kian mendapat dukungan positif dari masyarakat. Kemudian untuk para anak didik, Rifki berharap mereka selalu konsisten berhijrah tanpa alasan selain hanya untuk Allah SWT semata. "Harapannya teman-teman yang hijrah tetap istikamah ya sampai benar-benar kita menghadap Allah SWT itu dalam keadaan yang sedang berada dalam keadaan beriman kepada Allah SWT. Karena ujian dalam berhijrah itu pasti sangat dahsyat sekali," ujarnya. Penulis: Rifqi Aufal - umma

Cari Jodoh Lewat Terang Taaruf

Taaruf belakangan menjadi topik hangat di kalangan milenial muslim. Jalan taaruf ini menjadi pilihan muda mudi lantaran sesuai dengan syariat Islam. Sementara dalam Islam sendiri tak mengenal pacaran. Bagi yang ingin taaruf tetapi bingung caranya bahkan belum ada calonnya, bisa melalui Komunitas Terang Jakarta. Dalam komunitas ini terdapat kegiatan yang bernama Terang Taaruf. Sejauh ini sudah ada empat orang yang menikah dengan mengikuti Terang Taaruf. Menurut salah satu anggota Komunitas Terang Jakarta, Dwi Putra Sulistiawan, dalam kegiatan Terang Taaruf ada ustaz yang memberikan materi. Sehingga para peserta nantinya mendapatkan pengetahuan seputar taaruf dan percintaan sesuai Islam. Talkshow Terang Taaruf di Halal Expo Indonesia (HEI) 2019. (Foto: Shofa Yanti - umma) Angky sapaan akrabnya menyebutkan, salah satu manfaat dari taaruf yakni bisa mendewasakan diri seorang ikhwan maupun akhwat. Selain itu saling menjaga diri dan menjauhi perzinahan. "Jika ingin mengikuti sesi taaruf, orang tersebut harus membuat CV terlebih dahulu yang tulis dengan jujur. Biodata diri serta tulis juga kriteria pasangan, sifat baik dan buruk, ceritakan bagaimana hidup dalam jangka pendek dan jangka panjangnya," tutur pria yang juga menikah melalui jalan Terang Taaruf, akhir pekan ini. CV langsung diberikan kepada murobi atau pembimbing (ustaz). Jika sudah ada calon, maka CV tersebut akan ditukar. Namun jika belum ada, maka ustaz tersebut akan mencarikan. Tahap selanjutnya, ketika meneriman CV lawan jenis dan tertarik, maka hubungi kembali ustaz tersebut apakah ingin lanjut atau tidak. Jika ingin dilanjutkan maka ustaz akan membuat janji untuk perjumpaan atau disebut dengan nadhor pertama. "Biasanya dalam nadhor pertama, obrolannya hanya sederhana seperti tempat tinggal, pekerjaan, keseharian, dan lain sebagainya," tutur Angky. Setelah 1-2 minggu ustaz akan bertanya lagi apakah masih ingin dilanjutkan atau tidak? Jika ingin maka akan dilakukan lagi nadhor. "Nadhor berlanjut dengan ditemani ustaz dan ustazah hingga tiga atau empat kali. Biasanya obrolan pun juga sudah mulai berat, seperti nanti setelah menikah bagaimana dengan pekerjaan, ingin memiliki berapa anak, dan lainnya," ujar Angky. Jika ternyata kedua calon setuju untuk melanjutkan maka diadakan nadhor lima dan enam. Nadhor kelima, pihak dari ikhwan mendatangi keluarga akhwat. Sedangkan nadhor keenam, pihak akhwat yang datang kepada keluarga ikhwan. Angky mengaku dirinya mengikuti proses taaruf di Terang Taaruf hanya selama tiga bulan. Hal ini karena memang sudah ada keyakinan dalam diri untuk menikah. Angky pun baru melangsungkan pernikahan dalam kegiatan Halal Expo Indonesia (HEI) di ICE BSD Tangerang, pada Jumat (06/12/2019) lalu. "Tidak harus dari anggota Terang Jakarta, siapa juga boleh, jika sudah ada niat menikah silakan hubungi kami, bisa di Instagram @terangtaaruf," ucapnya. Ia juga menambahkan, Terang Taaruf bukan diperuntukan untuk yang berhijrah saja. Tetapi orang yang memang perlahan ingin lebih memperbaiki diri. Penulis: Shofa Yanti - umma

Bahagianya Touring Bareng Saudara Seiman

Memacu mesin bertenaga kuda menjelajahi kota demi kota tidak menjadikan para pecinta touring kelelahan. Walau kadang rintangan kerap menerpa seperti semerawutnya lalu lintas, kemacetan tiada henti, hingga cuaca buruk tetap mereka lakoni untuk menekuni hobi tercinta. Kebanyakan dari mereka menganggap bahwa touring adalah satu bagian dalam hidupnya. Sebab melalui touring, para pegiatnya akan merasakan pengalaman tak terlupakan bersama kawan-kawan sepermainan. Terlebih jika pergi ke daerah-daerah yang belum pernah dijajaki sebelumnya. Setelahnya masalah di kepala mereka pun purna dan hilang sekejap mata. Karena bagi pecintanya, touring seolah menjadi suplemen penyuplai tenaga sehingga badan tetap bugar sehingga siap menjalani tantangan. Hal itu pula yang dirasakan para anggota Muslim Car Community (MCC) ketika sedang menjalani agenda touring akbar. Mereka ibarat punya energi tiada batas demi menaklukkan medan batas. Tak terhitung sudah berapa markah jalan telah mereka lalui dengan cepat. Founder Muslim Car Community, Dwi Yuniarko, saat menjadi peserta di HEI 2019 akhir pekan lalu. (Foto: Rifqi Aufal - umma) Apalagi ketika hari raya telah tiba. Kebanyakan anggota MCC bertolak ke kampungnya masing-masing melalui jalur darat. Mereka berjalan seiringan dari titik keberangkatan walaupun memiliki tujuan akhir yang berbeda-beda. "Mudik itu kan biasanya orang sendiri, kita kalau sudah punya komunitas mobil enak, touring mudik bareng," tutur Founder MCC Dwi Yuniarko saat berbincang dengan umma dalam perhelatan Halal Expo Indonesia (HEI) 2019 di ICE BSD, Tangerang, akhir pekan lalu. Agenda itu menimbulkan kebahagiaan tersendiri bagi sesiapa yang mengikutinya dengan setulus hati. Sementara bagi Dwi sendiri, dapat ikut touring mudik bersama kawan sepermainan selalu bisa membuat kuncup hatinya bermekaran. "Nanti ketemu, saya mau ke Jogja, mau kopdar di Jogja. Pokoknya rasa kebersamaannya tinggilah, saya senangnya di situ," imbuhnya. Tetapi di balik itu, ada pula hikmah yang bisa dipetik oleh Dwi dan kawan-kawan. Karena tak jarang, menekuni hobi seperti ini mendatangkan sumber penghasilan yang tak pernah diduga sebelumnya. Jumlahnya pun alhamdulillah, bisa menghidupi anak istri bagi yang sudah berkeluarga, dan sekadar jajan teruntuk yang masih bujangan. Beberapa anggota komunitas yang sebelumnya tidak mengenal satu sama lain, kini merajut tali bisnis secara bersama-sama. Di antaranya merintis sebuah usaha yang tentunya bermanfaat bagi umat. Jadi selain bernilai ibadah karena menjalin silaturahmi, tergabung dalam MCC juga menyejahterakan secara tidak langsung. "Awalnya dari klub mobil, terus kerja bareng. Jadi mengundang rezeki juga," ujarnya. Penulis: Rifqi Aufal - umma

Komunitas Punkajian Ajak Anak Punk Hijrah

Keberadaan anak punk masih dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Hidup di jalanan, pakaian semrawut, hingga badan tatoan, sangat melekat pada anak punk. Namun, tahukah sahabat umma, kini tak jarang anak punk yang sudah hijrah. Mereka mulai menata hidupnya agar bisa menjadi lebih baik. Mulai dari berwirausaha, hingga berusaha untuk menghapus goresan masa lalu di tubuhnya. Semakin banyaknya anak punk yang berhijrah, terbentuklah sebuah komunitas Punkajian. Komunitas yang sudah berdiri sejak 2014 ini bergerak dalam dakwah. Anggota komunitas saling berbagi ilmu mengenai Islam, dan mengajak pada jalan kebaikan yang target utamanya adalah anak punk. Sekjen Punkajian, Rizqi Abu Aisha (kiri) saat di acara Halal Expo Indonesia (HEI) 2019. (Foto: Shofa Yanti - umma) Di sela-sela acara Halal Expo Indonesia, di ICE BSD, Tangerang, Sekjen Punkajian, Rizqi Abu Aisha menuturkan komunitas ini didirikan oleh Miki, Angga, dan Fido. Mereka mengambil nama punkajian sebagai sebagai doa dan memang mempunyai filosofis sendiri. Doa yang diselipkan yakni punk goes to kajian. Sedangkan filosofisnya adalah background dari komunitasnya adalah anak punk. "Jadi mematenkan segmentasi kita di anak punk, tetapi tidak menutup diri kepada teman-teman lain yang baru berhijrah walau bukan anak punk. Yang terpenting mau belajar yang artinya dibina dan bersama-sama mengisi dalam dakwah ini," tutur Rizqi saat ditemui oleh umma akhir pekan lalu. Ia menuturkan, santri yang ada di Pondok Hijrah Punkajian sebagian tergerak datang sendiri. Mereka biasanya mencari jalan agar bisa istikamah setelah berhijrah. Serta mencari lingkungan yang bisa menopangnya dan memiliki latar belakang yang sama. Namun tak jarang anggota komunitas juga mendatangi sekumpulan anak punk dan mengajak untuk hidup lebih baik. Komunitas ini berbasis di daerah Bekasi. "Ini jelas pekerjaan kami, yaitu dakwah bil hal. Datang ke lapangan mengajak mereka untuk berhijrah ke jalan Allah, mengajak bertaubat dan mengaji," ucapnya. Rizqi mengatakan, bahwasannya dakwah harus kepada orang terdekat lebih dulu. Karena background komunitas ini adalah anak punk otomatis yang pertama diajak adalah teman nongkrong, atau main teman musik bareng. Kendati demikian, untuk mengajak berhijrah tak mudah dilakukan. Terlebih hal itu dilakukan kepada anak punk. Sehingga harus ada pendekatan terus menerus, sambil berdakwah. "Setelah itu baru anak punk secara umum. Karena kami tahu hal ini dari dulu, jadi kita mengetahui banyak hal mengenai lingkungan punk dan jadi tahu masalah dan solusinya apa," ucapnya. Selain itu, komunitas ini juga melihat belum banyak orang yang berdakwah di ranah ini. Maka mereka mengisi kekosongan dengan peta dakwah yang belum banyak terjamah oleh para ulama. Rizqi melanjutkan, anak punk yang datang ke pondok dan menjadi santri akan mendapatkan pembinaan agama secara intensif. Hal ini untuk menjaga agar mereka bisa istikamah dengan lingkungan yang baik. "Jika tidak intensif, bisa jadi hijrahnya goyah dan kembali ke jalan yang salah. Karena santrinya tidak tinggal di pondok, jadi pada jam tertentu kelasnya diadakan. Dalam setiap kelas, ada ustaz yang berkompeten di bidangnya," ujarnya. Setiap hari Komunitas Punkajian membuka kelas belajar untuk anggotanya. Pada Senin, Selasa, dan Kamis ada pembelajaran membaca Al-Qur'an. Santri yang baru masuk akan dites telebih dahulu. Apakah mereka sudah bisa membaca Al-Qur'an atau belum. Kemudian setiap Rabu, ada kelas Bahasa Arab, Tazkiyatun Nafs, dan Akidah. Hari Jumat pembinaan ke Punkajian yang ada di Cileungsi, Bogor. Sabtu, kelas fikih dan sirah. Sedangkan Minggu merupakan pembinaan untuk ukhuwah satu sama lain dalam komunitas. "Ada program lainnya juga, setiap sebulan sekali kami adakan tabligh akbar di Masjid Baitul Mukhlisin, Duren Jaya," Selain itu ada juga kegiatan Nongkrong Berfaedah yang diadakan di kafe atau ruangan terbuka. Kegiatan ini didesain seperti acara musik. "Yang hadir mengenakan pakaian kasual, ada makanan dan kopi tetapi kontennya adalah kajian dan ini khusus ikhwan," jelas Rizqi. Ia berharap, punkajian terus istikamah memberikan sarana dan prasarana untuk teman-teman yang berhijrah di jalan Allah. Selain itu komunitas dapat mengembangkan mutu dan kualitas orang-orang yang ada di dalamnya. "Terutama masalah agama, ruhaniyah mereka sih. Intinya sebenarnya mereka sesuai dengan visi kita dan ciri yang sebagaimana ada firman Allah QS. Al-Baqarah ayat 208," jelas Rizqi. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً....... "Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan." Penulis: Shofa Yanti - umma

Loading...